Tetralogi Bumi Manusia boleh dikatakan sebagai salah satu karya sastra Indonesia terbaik sepanjang masa. Roman yang terkenal juga dengan sebutan Tetralogi Pulau Buru ini ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer atau yang akrab disapa Pram saat menjalani masa tahanan di Pulau Buru. Sampai saat ini, Tetralogi yang terdiri dari empat buku berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca tersebut telah diterjemahkan ke puluhan bahasa di dunia.

Buku pertama berjudul Bumi Manusia mengisahkan perjalanan seorang siswa HBS bernama Minke. Di sekolah, ia merupakan murid yang pandai dan pintar dalam menulis. Di dalam buku ini lebih banyak mengisahkan kisah cinta Minke bersama Annelis, putri Nyai Ontosoroh. Dari Nyai Ontosoroh ini, Minke banyak sekali belajar tentang realitas kehidupan di masa kolonial yang jahat. Pribadinya ditempa oleh berbagai pengalaman ketidakadilan yang menimpa dirinya, Annnelis, Nyai Ontosoroh dan para pribumi lainnya pada saat itu.

Dalam buku selanjutnya, Minke menjelma sebagai tokoh penting di masa awal perjuangan kemerdekaan. Ia tidak berjuang dengan senjata seperti generasi sebelumnya, tetapi menggunakan tulisan-tulisanya yang menggugah hati banyak orang. Awalnya, ia menerbitkan tulisannya itu di surat kabar yang ada di Hindia sampai akhirnya ia bisa menerbitkan surat kabar sendiri dengan nama Medan.

Ternyata, Minke bukan hanya imajinasi Pram semata, ia benar-benar ada dan merupakan tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di awal abad ke 20. Minke adalah hasil intrepetasi dari tokoh pergerakan Indonesia bernama Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo. Seperti yang dilansir berdikarionline, Tirto Adhi Soerjo atau T.A.S merupakan orang yang mendirikan organisasi pertama dan terbesar di Hindia Belanda bernama Sarekat Islam.

Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora pada 1880. Ia juga dikenal sebagai Pribumi pertama yang mendirikan surat kabar nasional. Surat kabar tersebut menggunakan bahasa melayu dan pada kegiatan produksi sepenuhnya dikerjakan oleh orang pribumi sendiri. Mulai dari wartawan hingga percetakannya dikerjakan oleh orang-orang pribumi. Tak heran bila pada tahun 1973, Dewan Pers Republik Indonesia menganugerahi Tirto Adhi Soerjo sebagai Bapak Pres Nasional.

Tirto Adhi Soerjo memelopori bentuk perjuangan yang baru dimana ia menggunakan koran sebagai media untuk menyampaikan kritikan-kritikan terhadap Pemerintah Hindia Belanda. Tulisan-tulisannya terkenal lugas, tegas dan berani dalam menyebarkan berita tentang penyelewengan dan kesewenang-wenangan Pemerintah Hindia Belanda.

Sebagai karya sastra, Tetralogi Bumi Manusia tentu saja tidak berisikan fakta-fakta sejarah sepenuhnya. Beberapa tokoh di dalamnya ada yang memang benar-benar nyata ada pula yang hanya tokoh fiksi bikinan Pramoedya Ananta Toer. Namun, buku Pram tersebut sangat cocok bila kita ingin mengetahui bagaimana perjuangan kemerdekaan mula-mula, khususnya tentang sosok Tirto Adhi Soerjo. Setelah Tetralogi Bumi Manusia, Pram juga membahas tokoh yang satu ini ke dalam buku biografi yang berjudul, Sang Pemula

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *