batavia

Sejarah-dunia.com – Sejak berhasil menaklukan Jayakarta pada 30 Mei 1619, Jan Pieterszoon Coen membangun kota yang menjadi simbol kejayaan Kesultanan Banten tersebut menjadi Batavia. Kelak, kota ini akan menjadi kota yang sangat penting bagi eksistensi VOC Belanda di tanah air hingga berdirinya Republik Indonesia.

Di balik sejarahnya yang panjang, Batavia menyimpan sejumlah fakta-fakta menarik. Berikut  fakta menarik seputar Batavia yang mungkin kamu belum tahu.

Pernah Dijuluki “The Queen of the East”

Batavia, pada masanya pernah menjadi sebuah kota yang begitu indah. Sebuah kota yang dirancang segi empat bersisi lurus layaknya sebuah benteng dengan tembok yang mengelilinya. Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen, pendiri awal kota ini menunjuk seorang perencana kota asal Belanda bernama Simon Stevin untuk merancang Batavia. Simon merancangnya mirip kota di Belanda yang menjadi tempat bertemunya lalu lintas pelayaran.

Yang membuat orang tertarik kala itu adalah kanal-kanal Batavia yang banyak jumlahnya dengan pemandangan gedung di kiri-kanan sungai. Kanal-kanal tersebut sengaja dibuat untuk memecah aliran Sungai Ciliwung yang telah disadari pada saat itu sebagai salah satu penyebab banjir. Woodes Rogers, seorang pelaut Inggris yang datang ke Batavia pada 1710 menulis;

“Rumah-rumah besar dan gedung di sekeliling kota dibangun dengan rapi dan teratur. Di sekelingnya terdapat taman-taman indah yang ditanami buah-buahan dan bunga, dihiasi dengan sumber mata air, air mancur, dan patung-patung.”

Kanal-kanal di Batavia berfungsi sebagaimana mestinya hingga menjadi salah satu moda transportasi. Namun, lama kelamaan kanal-kanal menjadi dangkal dan kotor sehingga menyebabkan banyak kanal akhirya tak berfungsi.

Etnis Tionghoa Berperan Membangun Perekonomian Batavia

Setelah berhasil merebut Jayakarta, Jan Pieterszoon Coen harus berpikir keras untuk membangun kota ini dari kehancuran akibat perang. JP Coen membujuk seorang saudagar Tionghoa bernama Souw Beng Kong untuk bekerjasama membangun perekonomian Batavia.

Souw Beng Kong merupakan sosok saudagar ulet di Banten dan menjadi tokoh terkemuka di sana. Kelak Souw Beng Kong menjadi seorang Kapiten Tionghoa pertama di Batavia, sebuah gelar untuk pemimpin komunitas masyarakat Tionghoa di Batavia.

Baca juga: Inilah Lima Bangunan Megah di Jakarta Peninggalan Sukarno

Perannya sangat dibutuhkan oleh JP Coen untuk membawa banyak imigran Cina datang ke Batavia, membangun dan menggulirkan perekonomian. Orang-orang Cina yang dikenal giat, pintar dan penurut bekerja apa di hampir segala sektor.

Mereka menjadi pedagang yang membawa barang-barang dalam partai besar, sebagai pandai besi, tukang kayu, menjalankan bsinis pembuatan gula di luar tembok Batavia, menyewa lahan pertanian dan lain-lain.

Sejak Dulu Memang Kota Multietnis

Batavia adalah sebuah kota multietnis yang berisi masyarakat campuran. Susan Blackburn dalam bukunya Jakarta Sejarah 400 tahun berkomentar bahwa walaupun kekuasaan VOC sangat besar, mereka tidak mampu memberikan kesan Eropa yang kuat terhadap kota ini. Ia menambahkan, catatan-catatan pada masa itu mencatat sejumlah besar kelompok etnis yang berbeda, tapi tidak ada yang mendominasi.

Sebuah sensus penduduk di dalam dinding kota pada 1673 mengungkapkan jumlah penduduk Batavia mencapai 27.068 orang dengan komposisi sebagai berikut; Orang Belanda (2.024), Orang Eurasia (726), Orang Cina (2.747), Orang Mardijker (5.362), Orang Moor dan Jawa (1.339), Orang Melayu (611), Orang Bali (981), Budak (13.278).

Dijuluki “Kota Tahi” oleh Mataram

Selain pernah mendapat julukan The Queen of The East, Batavia juga pernah mendapatkan julukan Kota Tahi. Julukan ini disematkan oleh prajurit Kerajaan Mataram yang menggempur Batavia pada malam tanggal 21-21 September 1628. Kisah tersebut diceritakan oleh Johan Neuhof, seorang Jerman yang menerjemahkan sebuah buku yang menceritakan bagaimana kocar kacirnya prajurit VOC menghadapi prajurit Mataram.

Sosok bernama Madelijn disebut yang memiliki gagasan aneh untuk mengusir para prajurit Mataram yang mulai merayap ke dinding kota. Ia menyelinap bersama para serdadu  untuk menyirami prajurit Mataram dengan keranjang yang penuh berisi tahi. Cara ini terbukti efektif sehingga membuat para prajurit Mataram kesal dan mundur.